TUGAS CERPEN BAHASA INDONESIA 9
NAMA : YURI ANDHINI
NO : 31
KELAS : IX D
Haruskah Aku Menyerah?
Namaku Kanaya Faradila, panggil saja Fara. Sekarang umurku 15 tahun. Saat 7 tahun, aku kehilangan kedua orang tuaku karena kecelakaan beruntun yang mereka alami bersama truk tronton. Nasib baik masih berpihak padaku karena saat itu aku menolak ikut bersama mereka dan memilih untuk menonton kartun kesukaanku, Adventure Time. Semenjak kepergian orang tuaku, nenek memutuskan untuk merawatku. Satu tahun pertama tinggal bersama nenek, aku sadar aku sangat merepotkan beliau. Mulai dari jarang berbicara dengannya, sulit diatur, nakal dan lainnya sudah pernah aku lakukan namun beliau tidak pernah marah dengan kelakuanku. Maklum belum terbiasa, katanya.
Dikamar gelap ini, aku sendirian meratapi nasibku yang malang. Merutuki kebodohanku selama ini yang tidak bisa dekat dengan nenek. Menangis tidak ada gunanya, tidak akan membuat nenek hidup kembali, pikirku. Sempat terlintas dipikiran ku untuk mengakhiri hidup saja. Untuk apa dan untuk siapa aku hidup? toh mama, papa dan nenek sudah pergi. Tidak ada yang bisa aku jadikan penyemangat hidup sekarang ini. Pemikiran tersebut runtuh kala aku melihat sticky notes berisi daftar yang aku lakukan kedepannya. Disebelahnya juga kulihat foto keluarga ku saat masih lengkap.
Setelah lama berpikir, aku memutuskan untuk merombak seisi kamarku dan memulai lembaran baru dalam hidupku. Untung saja aku bisa bertahan hidup dengan harta peninggalan papa yang mungkin akan cukup untuk aku pakai sampai aku lulus SMA nanti. Kalau kalian berpikir aku tidak punya sahabat, kalian salah. Liam sahabatku dari kami kelas 3 bangku sekolah dasar sampai kami memasuki kelas 9 SMP juga masih satu sekolah dengannya. Pulang sekolah hari ini aku menebeng motor Liam untuk sampai kerumah. Sepanjang perjalanan, kami hanya bercakap-cakap tentang kemarin dan hari ini. Alasanku tetap sekolah hanya satu, menggapai cita-citaku sejak dulu yang ingin menjadi seorang dokter. Kupikir, masih banyak orang diluaran sana yang mungkin nasibnya lebih menyedihkan dariku dan aku harap aku bisa membantu orang-orang itu menemukan nasib mereka yang lebih baik lagi.
Ketika melewati Jalan Teratai. tiba-tiba saja ada seorang nenek yang menyebar. Sontak saja, Liam menarik rem dengan kuat dan untungnya saja keberuntungan masih menyertai kami tidak menabrak nenek itu. Kami berhenti dan turun dari motor membantu nenek itu kembali berdiri dan mendudukkannya di bangku kayu kusam tepat dipinggir jalan itu. Aku pun memulai pembicaraan dengan nenek itu dengan menanyakan mengapa ia sendirian? dimana keluarganya? karena kulihat nenek ini dengan usianya yang sudah renta seharusnya cukup berdiam diri dirumah.
"Nenek dibuang nduk," Kata nenek itu menanggapi.
Singkat padat dan jelas cukup membuat palung hatiku terenyuh. Anak mana yang tega membuang ibunya ke jalanan seperti ini. Dengan hanya berbekal 1 tas berisi pakaian dan 1 kotak berisi roti isi, betapa durhakanya si anak nenek ini. Tidak apa-apa maklum semua sibuk, kata nenek itu menenangkanku yang mencela anak-anaknya.
"Tapi kan meskipun sibuk, hendaknya mereka menyewa seorang pengasuh atau pembantu dirumah, nek. Surga ada di telapak kaki ibu bukan?, " Sanggahku pada nenek itu.
" Dibilang sakit hati sih tidak nduk, hanya kecewa saja dengan mereka, karena jika seorang ibu sudah sakit hati kemudian mengeluarkan sebuah kalimat yang bisa jadi berupa kutukan maka Tuhan saja bisa mengabulkannya dalam sekejap," Nenek itu tetap saja keukuh dengan pendapatnya.
"Begini saja nek, karena aku juga hidup sendirian dirumah karena juga nenekku baru meninggal kemarin, bagaimana kalau nenek tinggal saja dirumahku, menemaniku. Untuk biaya tidak perlu khawatir nek, aku akan bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan kita kelak lulus SMA nanti karena aku masih ada sisa warisan dari ayah yang cukup sampai nanti SMA nek, " Tawarku ke nenek itu. Aku tidak tega melihatnya hanya luntang lantung di jalanan.
Awalnya nenek itu menolak. Tapi setelah melalui bujukan dan rayuan dariku, nenek itu akhirnya setuju dengan syarat dia diperbolehkan untuk membantuku mengerjakan pekerjaan rumah yang ringan. Akupun mengiyakan permintaannya, yang penting beliau mau tinggal denganku. Jangan tanya Liam kemana, dia saja menangis dibalik pohon yang menaungi tempat dudukku dengan nenek itu. Se sensitif itu memang Liam.
"Heh ngapain kamu disitu Li? nangis?," kataku dengan nada mengejek
"Fara kalo ga nyari masalah sama aku satu hari aja kayaknya ga tenang hidupnya heran. Udah diem ini cuman kelilipan biasa.", balas Liam padaku. Aku tau dia berbohong. Namun aku tetap tertawa agar suasana tidak menjadi canggung diantara kami bertiga.
"Oiya nek, kalau Fara bandel, marahin atau ga cubitin nek, biar kapok. " Kata Liam dengan menyeringai
"LOH KOK GITU?, nek udah jangan didengerin emang kelakuan setan ya gitu bawaan dari lahir anaknya," balasku tak terima dengan Liam. Nenek hanya terkekeh menanggapinya. Kami berbincang sejenak hingga aku sadar matahari hampir tenggelam menyembunyikan sinarnya. Akupun mengajak nenek untuk pulang kerumahku dan Liam pulang kerumahnya juga. Membantu mamanya memasak sehingga bisa mengantar makanan kerumahku katanya. Semenjak nenek meninggal, memang keluarga Liam sangat peduli denganku sampai Liam sendiri bingung sebenarnya Liam ini anak siapa.
Aku mendapat pelajaran dari hari ini. Ketika kamu merasa hidup kamu tidak ada artinya, tidak berguna ataupun kamu ingin menyerah dalam hidup. Ingat saja bahwa ada orang yang malang nasibnya daripada kita, bukan membandingkan namun Tuhan memberi kita ujian dihidup ini untuk melihat sebesar apa hati kita menerima itu, sebesar apa rasa sabar kita dan sekuat apa kita menghadapinya. Tuhan pun tau kamu kuat menghadapinya sehingga kamu dipilih untuk menjalani cobaan itu. Satu hal yang aku ingat, bahwa jika merasa kamu tidak berguna dalam hidup, ingatlah bahwa mungkin ada secuil orang yang merasa kamu sangat berarti untuk mereka, mereka mengharapkan kamu, mereka menyayangimu sepenuh hati. Jadi tetap semangat dan kuat menggapai hidup yang lebih baik ya? Jika kamu ingin menangis, menangis saja jika itu membuatmu lega. Para pembacaku pasti hebat sudah sampai ke titik ini masa mau menyerah sih?.
Komentar
Posting Komentar